The Proggiehouse
To Think To Share To Move Progressively!

Fesbuk dan Autisme

Sebelum memulai pembahasan sy akan menkonstruksi dll (dynamic link library) mengenai istilah2 yg nantinya dipakai dalam artikel ini… { // TODO: add code here “Autisme diklasifikasikan sebagai ketidaknormalan perkembangan neuro yang menyebabkan interaksi sosial yang tidak normal, kemampuan komunikasi, pola kesukaan, dan pola sikap” (Wikipedia edisi bahasa indonesia ref) Autis = kata sifat yg mengacu pada term autisme Peradaban Autis = peradaban umat manusia yang dipengaruhi oleh sistem global yg autis yg dilakukan oleh orang2 autis. Facebook = autis social networking } Let’s we begin…. Paling tidak ada dua hal yang menjadi efek samping yang dinilai negatif mengenai fenomena fesbook ini, pertama: pergeseran perilaku sosial yg makin autis kedua : penyebaran virus autisme pada pengguna fesbook Paling tidak kedua masalah tersebut baru merupakan hipotesa saja, namun mari kita lanjutkan pembahasan ini… “pergeseran perilaku sosial yg makin autis” Suatu kali ktika berkunjung ke warung kopi di pusat kota tampak sekumpulan orang dalam satu meja masing2 sibuk dengan laptopnya tidak ada perbincangan satu dengan yang lainnya. Samar2 tampak template facebook di layar laptopnya. Sudah lebih dari 30 menit mereka begitu…sangat berbeda ketika saya berkunjung ke sebuah warung kopi di jalan gelap nyawang yang penjualnya biasa dipanggil “si babeh” oleh para pelanggannya ini, jangan kan dalam satu meja, 3 meja dan saling berjauhan pun bisa terjadi komunikasi antar orang2 disana wajar klo suasana terasa bising dan memekakan telinga… Seketika saya bergumam dalam hati “dasar orang2 autis”, tp dipikir2 lagi orang2 itu kan sedang melakukan interaksi sosial melalui fesbuk secara fesbuk merupakan social networking pula. Jadi dilihat dari sudut pandang itu saya ragu apakah mereka adalah orang2 autis dalam kapasitas pola2 interaksi sosial. Mari kita simak motto perusahaan facebook ini : “Give people the power to share and make the world more open and connected ” …oh man dimana autisnya itu? apakah kata2 itu merupakan bungkus palsu dari seonggok kotoran yang bernama autisme…tp jika tidak, apa korelasinya dengan perilaku sosial yg autis oleh sekumpulan orang2 yang terlihat di warung kopi sebelumnya (bukan warkop babeh)… Sebelum ada fesbuuk,internet dan laptop ketika orang berkumpul dalam satu meja maka mereka berbincang satu sama lainnya kadang tangan pun ikut bermain disana…Ketika rindu kawan lama maka hal yang dilakukan adalah mengirim surat lewat pos ato burung dara kemudian atur2 waktu dn tempat utk berjumpa. Namun sekarang…semua dilakukan didalam dunia lain baca jaringan internet aka dunya maya dan salah satu kendaraan yg dipakai adalah facebook. Nampaknya sudah bergeser perilaku social dalam konteks interaksi sosial antar orang2, ruangan kejadiannya sudah berpindah kedalam ruangan maya. Dapat dibayangkan jika Zuckerberg iseng ingin menambahi aplikasi “teleconference” dalam facebook nya…makin autis saja orang2.Namun sebagian besar orang2 indonesia akan menikmatinya jika bandwidth koneksi internet yg > 2Mb, tarifnya sama dengan tarif dasar listrik PLN skrng. Untuk saat ini pola2 interaksi sosial semacam itu dikatakan autis karena dirasa tidak normal terhadap interaksi sosial yang biasa dikenal dan dipahami kususnya bagi sebagian besar penduduk indonesia. Bahkan pemahaman interkasi sosial yg biasa ini sudah menjadi norma sosial dalam masyrakat umum,sehingga jika dilihat dari sudut pandang itu metode interaksi sosial yang baru ini bernilai negatif. Paling tidak untuk saat ini entah 20 tahun lagi… “menyebarkan virus autisme pada pengguna fesbook” Beberapa rekan kerja bergumam “fesbuk itu racun” kawan2 yg lagi tesis bilang “fesbuk itu racun”…maksudnya orang2 itu menjadi autis dan kambing hitamnnya adalah facebook. Menurut wikipedia salahsatu tanda autisme adalah :”hanya suka akan mainannya sendiri (kebanyakan hanya satu mainan itu saja yang dia mainkan) “. Jika facebook adalah mainan yang dimaksud dan merupakan satu2 nya mainan yg dimainkan pada saat tertentu jelas orang2 yg bertindak seperti itu adalah orang autis… Ada saja alasan dan sejuta pembenaran untuk nge-fesbuk, ketika sedang melakukan pekerjaan yang seharusnya pada saat itu. Klo dia adalah pekerja disuatu perusahaan maka sebagian waktu kerjanya terpakai oleh aktivitas ini. Sebagian orang berkata “aku deadliners bung”,jadinya sudah biasa bekerja “diwaktu2 mepet dan kepepet” tak masalah lah nge-fesbuk juga,begitu katanya…Tapi yang namanya deadliners kan harus punya energi lebih dan energi ini berbanding terbalik dengan faktor usia…dan sy katakan pd rekan sy, kalo lu bisa bekerja se-efisien itu (baca:deadliners itu seorang pekerja yg efisien) maka sebetulnya kinerja kerja lu bisa lebih tinggi dari yang sebenarnya. Spontan dia berkata, gak tau ya itu tidak keluar kalau tidak dalam kondisi mepet dan facebook membantu menciptakan kondisi mepet dan kepepet ketika gw bekerja hehehe…siyal lagi2 pembenaran…yah mau gimana lagi orang2 alumni kampus sy begitu kelakuannya deadliners sejati… Jadi apakah facebook merupakan salah satu faktor pembentuk peradaban autis? hmmm by definition betul, secara facebook adalah autis social networking.. Begitulah cuplikan dari efeksamping dari sebuah facebook…secara global menciptakan kultur sosial yang autis secara individu menciptakan perilaku autis..lagi2 facebook jadi kambing hitamnya…Tapi siapa kambing sebenarnya apakah teknologi informasi kah , fesbook kah ato user nya..hehehe..ups seharusnya saya nyuci motor sore ini kok malah mesbuk kk …

Advertisements

One Response to “Fesbuk dan Autisme”

  1. nice …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: