The Proggiehouse
To Think To Share To Move Progressively!

Jalan tetaplah Jalan

Bill Gates pernah menulis buku yang sangat inspiratif yang berjudul ‘the road ahead’, namun sy tidak akan bercerita mengenai buku itu karena sy ingin mengomentari perjalanan kecil kemarin. Baik saya maupun Bill Gates sama-sama sepakat bahwa untuk mencapai tujuan harus menempuh perjalanan dan memilih jalan dengan tepat. Bagaimana mungkin ingin pergi ke Jampang jika jalan menuju kesana tidak tahu dan tidak dicari tahu ? Jika cukup tahu rute jalan yang dimaksud maka  rute mana yang harus dipilih ?

Ada kisah lucu, judul cerita sy tidak tahu rute jalan menuju ke sebuah kota yg dituju sehingga hanya mengandalkan petunjuk jalan saja. Kemudian dijalan dikota tempat bertolak terlihat petunjuk yang memberitahukan tentang ‘arah menuju pintu tol’ , spontan saja sy mengantre untuk masuk ke pintu gerbang tolnya. Namun  tiba-tiba kendaraan dibelokan kearah kiri dan memutuskan untuk tidak mengambil lintasan tol. Pertimbangannya adalah karena ragu apakah lintasan tol ini tersambung dengan lintasan tol lain yang merutekan ke kota tujuan. Maka cara aman yang dipilih adalah jangan dulu masuk lintasan tol, disamping itu ada keyakinan yang mengatakan bahwa sekali masuk tol maka susah untuk keluar dan resiko ini tidak mau diambil.

Walhasil sy hanya bisa nyengir karena jalan didepan sedang mengalami traffic jam yang luar biasa padat, sebaliknya lintasan sebelah yg merupakan lintasan tol yg ingin dipilih sebelumnya kondisinya lowong. Namun apa daya penyesalan tidak berguna mau bagaimanapun bentuk apresiasi rasa penyesalan tetap tidak berguna, mungkin nyengir jauh lebih baik. Awalnya saya berfikir betapa senangnya pengemudi dilintasan sebelah, karena merasakan betapa nikmatnya berada di lintasan padat merayap. Sungguh kontras kondisinya karena kedua lintasan hanya dibatasi oleh pagar besi yang mana masing-masing pengemudi disetiap lintasan bisa saling melihat.

Hatta aliran kesadaran pun muncul, ada monolog ‘mengapa harus disesalkan ? ‘. Akhirnya sy teringat kepada tujuan utamanya yaitu menuju kota tujuan, sehingga emosi bisa diredam dan kondisi dilintasan sebelah pun tidak dihiraukan lagi. Menikmati lintasan padat dan merayap sungguh menyenangkan karena pada dasarnya sy sedang melewati proses latihan kesabaran. Biasanya semua proses latihan yang bermanfaat akan membawa hasil yang bermanfaat pula, pada sudut pandang ini akhirnya sy bisa menikmati perjalanan tersebut. Paling tidak jika tidak memilih lintasan tersebut mungkin tulisan ini tidak akan dimuat.

Jalan yang dipilih adalah bagian dari kehidupan sehingga wajib untuk disyukuri dan tentunya harus disadari bahwa jalan tetaplah jalan, karena pada dasarnya ada tujuan dari setiap jalan yang dipilih. Ketika memilih suatu jalan maka harus bersiap dengan rintangan-rintangan yang harus dilalui. Memilih jalan yang sudah diketahui atau pernah dilalui relatif lebih mudah dibandingkan dengan jalan yang belum pernah dilalui sama sekali. Mana yang lebih baik? jawabannya adalah tergantung dari selera masing-masing, asal saja siap pada setiap resiko yang harus ditelan.

Jalan tetaplah jalan karena yang terpenting adalah tujuan dari setiap jalan yang dipilih.

Advertisements

No Responses to “Jalan tetaplah Jalan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: