The Proggiehouse
To Think To Share To Move Progressively!

Fiqh Prioritas oleh :Dr. Yusuf Qardhawi

Artikel ini didapat dari: http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Prioritas/PerbaikiDiri.html

MEMPERBAIKI DIRI SEBELUM MEMPERBAIKI SISTEM

DI ANTARA prioritas yang dianggap sangat penting  dalam  usaha

perbaikan   (ishlah)   ialah   memberikan  perhatian  terhadap

pembinaan  individu   sebelum   membangun   masyarakat;   atau

memperbaiki  diri  sebelum  memperbaiki  sistem dan institusi.

Yang paling tepat ialah  apabila  kita  mempergunakan  istilah

yang  dipakai  oleh  al-Qur’an yang berkaitan dengan perbaikan

diri ini; yaitu:

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu

kaum sehingga mereka mengubah keaduan yang ada pada

diri mereka sendiri…” (ar-Ra’d: 11)

Inilah  sebenarnya  yang  menjadi  dasar  bagi  setiap   usaha

perbaikan,  perubahan,  dan pembinaan sosial. Yaitu usaha yang

dimulai dari individu, yang menjadi  fondasi  bangunan  secara

menyeluruh.  Karena  kita tidak bisa berharap untuk mendirikan

sebuah  bangunan  yang  selamat  dan  kokoh  kalau   batu-batu

fondasinya keropos dan rusak.

Individu   manusia   merupakan  batu  pertama  dalam  bangunan

masyarakat. Oleh sebab itu, setiap usaha yang diupayakan untuk

membentuk  manusia  Muslim yang benar dan mendidiknya –dengan

pendidikan Islam yang sempurna– harus diberi  prioritas  atas

usaha-usaha  yang  lain. Karena sesungguhnya usaha pembentukan

manusia Muslim yang sejati sangat diperlukan bagi segala macam

pembinaan  dan  perbaikan.  Itulah  pembinaan  yang  berkaitan

dengan diri manusia.

Sesungguhnya pembinaan manusia secara individual untuk menjadi

manusia yang salih merupakan tuga utama para nabi Allah, tugas

para khalifah pengganti nabi, dan para pewaris setelah mereka.

Pertama-tama yang harus dibina dalam diri manusia ialah  iman.

Yaitu  menanamkan  aqidah  yang  benar  di dalam hatinya, yang

meluruskan pandangannya terhadap  dunia,  manusia,  kehidupan,

dan  tuhan  alam semesta, Pencipta manusia, pemberi kehidupan.

Aqidah  yang  mengenalkan  kepada  manusia  mengenai  prinsip,

perjalanan dan tujuan hidupnya di dunia ini. Aqidah yang dapat

menjawab pelbagai pertanyaan yang  sangat  membingungkan  bagi

orang  yang  tidak  beragama:  “Siapa  saya? Dari manakah saya

berasal? Akan kemanakah perjalan hidup saya? Mengapa saya  ada

di  dunia  ini?  Apakah  arti hidup dan mati? Apa yang terjadi

sebelum adanya kehidupan? Dan apakah yang akan terjadi setelah

kematian? Apakah misi saya di atas planet ini sejak saya masih

di alam konsepsi hingga saya meninggal dunia?

Iman  –bukan  yang  lain–  adalah  yang  memberikan  jawaban

memuaskan  bagi  manusia  terhadap pertanyaan-pertanyaan besar

berkaitan dengan perjalanan hidup manusia itu.  Ia  memberikan

tujuan,  muatan makna, dan nilai bagi kehidupannya. Tanpa iman

manusia akan menjadi debu-debu halus yang  tidak  berharga  di

alam wujud ini, dan sama sekali tidak bernilai jika dihadapkan

kepada kumpulan benda di alam semesta yang sangat besar.  Umur

manusia   tidak   ada  apa-apanya  kalau  dibandingkan  dengan

perjalanan geologis yang berkesinambungan pada  alam  semesta,

dan  yang  akan  terus  berlangsung  dan  tidak akan berakhir.

Kekuatan Manusia tidak akan ada apa-apanya kalau  dibandingkan

dengan  pelbagai  kejadian  di  alam  semesta  yang  mengancam

keselamatannya; seperti: gempa  bumi,  gunung  meletus,  angin

ribut,  banjir,  yang  merusak  dan  membunuh  manusia. Ketika

berhadapan dengan  pelbagai  peristiwa  alamiah  itu,  manusia

tidak  dapat  berbuat  apa-apa,  walaupun  dia  mempunyai ilmu

pengetahuan, kemauan, dan teknologi canggih.

Selamanya, iman merupakan  pembawa  keselamatan.  Dengan  iman

kita  dapat  mengubah  jati diri manusia, dan memperbaiki segi

batiniahnya. Kita tidak dapat menggiring manusia seperti  kita

menggiring  binatang ternak; dan kita tidak dapat membentuknya

sebagaimana kita membentuk peralatan rumah tangga yang terbuat

dari besi, perak atau bijih tambang yang lainnya.

Manusia  harus  digerakkan  melalui akal dan hatinya. Ia harus

diberi kepuasan sehingga  dapat  merasakan  kepuasan  itu.  Ia

harus  diberi petunjuk agar dapat meniti jalan yang lurus; dan

ia harus digembirakan dan diberi peringatan,  agar  dia  dapat

bergembira dan merasa takut dengan adanya peringatan tersebut.

Imanlah  yang  menggerakkan  dan  mengarahkan  manusia,  serta

melahirkan  berbagai  kekuatan  yang  dahsyat  dalam  dirinya.

Manusia tidak akan  memperoleh  kejayaan  tanpa  iman.  Karena

sesungguhnya  iman  membuatnya  menjadi  makhluk  baru, dengan

semangat yang baru, akal baru,  kehendak  baru,  dan  filsafat

hidup  yang  juga  baru. Sebagaimana yang kita saksikan ketika

para ahli sihir Fir’aun beriman kepada  Tuhan  nabi  Musa  dan

Harun.  Mereka  menentang kesewenangan Fir’aun, sambil berkata

kepadanya dengan penuh ketegasan dan kewibawaan:

“… maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan.

Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada

kehidupan di dunia ini saja… (Taha: 72)

Kita juga dapat  melihat  para  sahabat  Rasulullah  saw  yang

keimanan  mereka  telah memindahkan kehidupan Jahiliyah mereka

kepada  kehidupan  Islam;  dari   penyembahan   berhala,   dan

penggembalaan  kambing  kepada  pembinaan  umat  dan  menuntun

manusia kepada petunjuk Allah SWT, serta  mengeluarkan  mereka

dari kegelapan kepada cahaya.

Selama  tiga  belas  tahun  di  Makkah  al-Mukarramah, seluruh

perhatian dan kerja-kerja Nabi saw  –yang  berbentuk  tabligh

dan  da’wah–  ditumpukan  kepada  pembinaan  generasi pertama

berdasarkan keimanan.

Pada  tahun-tahun  itu  belum  turun  penetapan  syariah  yang

mengatur  kehidupan  masyarakat,  menetapkan hubungan keluarga

dan hubungan sosial, serta menetapkan  sanksi  terhadap  orang

yang   menyimpang  dari  undang-undang  tersebut.  Kerja  yang

dilakukan oleh al-Qur’an dan  Rasulullah  saw  adalah  membina

manusia  dan  generasi  sahabat  Rasulullah  saw, mendidik dan

membentuk mereka, agar mereka dapat menjadi pendidik di  dunia

ini setelah kepergian baginda Rasul.

Dahulu,  rumah  Al-Arqam  bin  Abi  al-Arqam memainkan peranan

untuk itu. Kitab suci Allah SWT  diturunkan  kepada  Rasul-Nya

sedikit  demi  sedikit sesuai dengan kasus-kasus yang dihadapi

pada saat itu; agar dia membacakannya  kepada  manusia  secara

perlahan-lahan,  untuk  memantapkan keyakinan hati mereka, dan

orang-orang yang beriman kepadanya. Nabi saw menjawab berbagai

pertanyaan  orang  musyrik  pada  waktu  itu dengan mematahkan

hujah-hujah mereka, sehingga hal  ini  sangat  besar  perannya

dalam  membina  kelompok  orang-orang beriman, memperbaiki dan

mengarahkan perjalanan hidup mereka. Allah SWT berfirman:

“Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan

berangsur-angsur agar kamu membacakannya

perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya

bagian demi bagian. (al-Isra,: 106)

“Berkatalah orang-orang kafir: “Mengapa al-Qur’an itu

tidak diturunkan kepadanya sekaligus saja?”

Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan

Kami membacakannya kelompok demi kelompok. Tidaklah

orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa)

sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu

suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.”

(al-Furqan: 32-33)

Tugas terpenting yang mesti kita lakukan pada hari ini apabila

kita  hendak  melakukan  perbaikan  terhadap keadaan umat kita

ialah melakukan permulaan yang tepat,  yaitu  membina  manusia

dengan  pembinaan  yang  hakiki  dan  bukan hanya dalam bentuk

luarnya  saja.  Kita  harus  membina  akal,  ruh,  tubuh,  dan

perilakunya  secara  seimbang.  Kita  membina  akalnya  dengan

pendidikan; membina ruhnya dengan ibadah;  membina  jasmaninya

dengan  olahraga;  dan  membina perilakunya dengan sifat-sifat

yang mulia. Kita dapat membina kemiliteran  melalui  disiplin;

membina  kemasyarakatannya  melalui  kerja sama; membina dunia

politiknya dengan penyadaran. Kita harus  mempersiapkan  agama

dan  dunianya secara bersama-sama agar ia menjadi manusia yang

baik,  dan  dapat  mempengaruhi  orang  untuk  berbuat   baik,

sehingga  dia  terhindar  dari  kerugian di dunia dan akhirat;

sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar

berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang

beriman dan mengerjakan amal saleh dan

nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan

nasihat- menasihati supaya menetapi kesabaran.”

(al-‘Ashr: 1-3)

Usaha itu tidak dapat dilakukan dengan  baik  kecuali  melalui

pandangan  yang menyeluruh terhadap wujud ini, dan juga dengan

filsafat hidup yang jelas,  proyek  peradaban  yang  sempurna,

yang  dipercayai  oleh  umat, sehingga ia mendidik anak lelaki

dan perempuannya dengan penuh keyakinan, bekerja sesuai dengan

hukum yang telah ditentukan dan berjalan pada jalur yang telah

digariskan. Bagaimanapun, semua institusi yang  ada  di  dalam

umat  (masjid  dan universitas, buku dan surat kabar, televisi

dan radio) mesti melakukan  kerja  sama  yang  baik,  sehingga

tidak  ada  satu  institusi yang naik sementara institusi yang

lainnya tenggelam, atau ada satu perangkat yang  dibangun  dan

pada  saat yang sama perangkat lainnya dihancurkan. Pernyataan

di atas dibenarkan oleh ucapan penyair terdahulu:

“Dapatkah sebuah bangunan diselesaikan; Apabila engkau

membangunnya dan orang lain menghancurkannya?”

——————————————————

FIQH PRIORITAS

Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah

Dr. Yusuf Al Qardhawy

Robbani Press, Jakarta

Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M

Advertisements

No Responses to “Fiqh Prioritas oleh :Dr. Yusuf Qardhawi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: